Kepakan Sayap Elang & Singa ‘Greget’ kita

Singa – singa lama itu ingin bertarung kembali sesamanya. Meski hutan akan beralih ke jaman yang baru. Begitu banyak singa – singa baru bermunculan dan pastinya akan siap menggantikan singa – singa lama. Sama halnya pada kehidupan hutan, singa – singa baru pun saling bersaing sesamanya. Seolah – olah bagi penghuni baru hutan yang lain, ini adalah hal yang baru terjadi di kehidupan mereka. Apa iya, itu hal baru ? ini juga mungkin terjadi sejak lama.

Bagaimana siasat agar singa – singa lama ini mendapat sambutan kembali kepada penghuni – penghuni hutan yang baru ? Tentunya tidak secara langsung menjadi tokoh, cukup menggunakan jurus auman proxy. Sehingga akan ada tetap singa – singa baru, tapi sebenarnya hanyalah kaki tangan singa – singa lama.

Pada kenyataannya, memang perubahan jaman justru akan meninggalkan hal – hal lama yang tidak perlu. Namun, apakah ikhlas dan rela melepas menjadi sifat dasar singa ? … heuheuheu. Singa – singa baru yang bermunculan dibiarkan bertarung sesamanya hingga lelah sendiri. Begitu juga para penghuni hutan yang lebat akan berubah menjadi pemuja, pembenci dan pencinta buta semacam “hewan – hewan absolut” yang juga pasti akan lelah sendiri pada waktunya. Menang dan kalah bukan lagi jawaban, namun kedatangan solusi, penengah atau semacamnya akan datang bak “pahlawan”, yang meskipun mungkin juga berasal dari auman proxy singa – singa lama. The Master of Peace ngga selalu bener – bener peace, bisa jadi hanya penunda saja … heuheuheu.

Mungkin sebenernya ngga ada masalah apa – apa. Jadi, ada untuk memeriahkan masalah – masalah antar singa – singa baru. Biar lebih menyentuh penghuni hutan lain, hingga berubah menjadi “hewan – hewan absolut” yang tak gentar oleh apapun dan bersedia menghabiskan waktu. Yang menjadi kendala/target singa – singa lama tidak hanya singa – singa baru yang bermunculan dengan kharisma, karakter dan banyaknya pencinta/pembenci sejati mereka, tapi juga munculnya kelompok – kelompok singa baru yang memiliki ideologi – ideologi baru yang dapat menggerus ideologi – ideologi singa – singa lama. Ketakutan singa – singa lama inilah ……. akan menjadi kekuatan utama kebangkitan singa – singa baru setelah hancur sesamanya.

Jadi, singa – singa baru yang bersaing dan yang sebenernya merupakan “makhluk penyongsong perubahan jaman” dimatikan satu persatu. Begitu juga kelompok – kelompok perubahan besar, dibubarkan dengan lembut dan pasti. Sementara penghuni hutan lainnya pada saling setrum pakai cakar seadanya. Makhluk – makhluk absolut yang menghakimi dirinya sendiri menuju pembebasan yang sebenarnya mereka sendiri tak paham … heuheuheu. Sudahlah, hutan tetaplah hutan.


Tentunya singa – singa lama pilih – pilih, singa – singa baru mana yang berbahaya, yang membuat mereka begitu tak berharga. Dan singa – singa baru mana yang bisa diajak kompromi. Singa – singa baru berbahaya ini akan ditenggelamkan satu per satu. Dan kelompok singa baru yang menyongsong perubahan baru dan berbahaya bagi jalan mulus singa – singa lama juga dibubarkan secara lembut. Singa – singa baru dan kelompok – kelompok singa baru yang seharusnya menyongsong perubahan, menjadi keok seketika. Namun, itu pun juga sebenarnya adalah jalan jernih menuju pendalaman untuk perubahan itu sendiri. Itu menjadi tampak jelas, bila melihat dari sudut pandang burung yang selalu punya kehidupan sendiri bersama angin – angin yang membawa pertanda. Si burung – burung itu berkata :

“Kalau singa – singa baru itu jatuh, terperosok oleh kondisi atau jerat apapun, berarti memang dialah yang menjadi target. Dialah penyongsong masa depan sesungguhnya dan dialah yang srbenarnya ditakuti. Nah, bila ada singa baru lainnya yang meskipun bersaing antar sesama singa baru, yang juga turut dijatuhkan, berarti dia jugalah penyongsong perubahan jaman sesungguhnya. Penyongsong perubahan sejati, tidak selalu searah, seringnya malah saling adu jotos juga. Ya namanya juga perubahan. Tapi bukan berarti semua yang dijatuhkan itu berarti, karena ada yang memang sudah tak diperlukan lagi oleh orang belakang layar … heuheuheu. Tidak hanya itu kalau ada kelompok singa baru yang ideologinya berbeda dgn orang belakang layar, beda kepentingan atau malah berlawanan maka kelompok itu akan dibubarkan. Itu berarti kelompok itulah penyongsong masa depan sesungguhnya. Ketahuilah penguasa lama itu ya ingin kondisi yang mirip dengan yang lama, belum tentu terlatih dengan kondisi – kondisi baru, emang pas berkuasa pada belajar ? … heuheuheu. Itu artinya siapapun singa – singa baru atau kelompok singa – singa baru yang tiada bisa dijatuhkan atau dijerat, itu berarti memang dia antek – antek di belakang layar, singa-singa baru palsu yang dibuat seolah mewakili perubahan. Yang berarti mungkin masih bisa digunakan untuk selanjutnya … heuheuheu. Lho, jangan salah, palsu bajakan itu diciptakan bukan musuhan mulu sama yg asli, tapi justru mempopulerkan yang asli … Heuheuheu. Namun, lebih baik tiada bersangka siapa ini siapa itu, itu tiada penting, yang penting kita mau berubah atau ngga ? menjadi hutan yang menghidupkan semua makhluk, termasuk jin, tuyul bahkan bangsanya bigfoot atau orang pendek … heuheuheu.”

Burung Elang pun turut ngobrol juga, setelah travelling dari langit ke langit kesana kesini :
“Maka daripadanya itu, kita sebaiknya tiada mengerucut hanya kepada hal – hal yang antagonis sahaja. Woo … malah bubar hutan raya ini, Rek. Itu bukan keseimbangan atau kesatuan, itu pengerucutan, yang berakhir pada nyerah hati nyerah pikiran menjadi hewan – hewan absolut yang ngabisin waktu buat hahehaheh “demi bangsa dan negara” heuheuheu. Kalau ingin berubah silahkan dari diri sendiri saja. Ga usah tameng organisasi ini itu, malah keliatannya serius … Heuheuheu. Kita harus lihat hal – hal lain, itu perlu digali dan dikembang-ken. Misal, apakah ada rantai makanan kita yang mulai tiada ? Apakah ada area hutan kita yang disantap hewan hutan lain, jangan kasi kendor ? Apakah ada jenis hewan baru yang muncul disini ? Apakah monyet kera sudah berevolusi, jadi makhluk yang bisa mikir ? Atau apakah gajah yang telinganya besar masih mendengarkan jeritan hewan nista yg jauh disana ? Apakah kambing liar masih ngga takut kolesterol ? Apakah anak – anak udah bisa cari mangsa sendiri ? Apakah kelinci masih selalu menjadi percobaan ? Hutan ini memang banyak cobaan, tapi ya ga usah teriak – teriak semua, telur dan sarang saya jadi terganggu … Heuheuheu.”

Asyiknya memang menjadi burung. Karena burung paling menyadari dan mendalami, bahwa diantara hutan – hutan yang berdekatan, meskipun jenis hutannya beda, selalu dilewati oleh awan – awan yang sama. Hanya saja, jadi burung sering berubah – ubah. Bunyi kremesek dikit, bubar menerpa langit … heuheuheu … dasar makhluk baper-an. Namun, burung memahami sandi – sandi hutan lebih lengkap dan lebih cepat bergerak menyongsong perubahan musim.


Di ujung atas sebuah gunung dan perbukitan yang menjaga hutan dari angin yang keras, ada sosok singa mengaum. Ia bersama dengan hewan lainnya yang tak suka bicara atau pun caper. Singa itulah raja hutan saat ini. Raja hutan yang berada di pintu gerbang perubahan, akan menyerahkan perubahan ini kepada peradaban lama atau kepada tantangan – tantangan baru, bukannya peradaban baru tapi rasa lama. Penghuni hutan ini smuanya harus berkembang, tidak melahirkan hewan – hewan dengan insting yang sama. Bakal diterjang oleh penghuni hutan lain. Dia harus mencari petunjuk alam, apa yang harus dilepas dan apa yang harus diperjuangfokuskan. Kekayaan hutan ini justru membuat banyak penghuninya tiada ingin pergi melepas niat untuk diri sendiri. Mungkin itu juga bentuk keseimbangan ya … heuheuheu.

Ajudannya bertanya kepada Singa itu, “mengapa dirimu ga ngobrol sama kaum burung aja, kan dia bersayap ?”. Dulu memang kaum bersayap sangat transcendent dan tiada terikat akan ini itu. Namun, sekarang sudah berubah. Berubah itu pun berkat perjuangan singa – singa dan penghuni hutan dulu. Tapi ya kembali ke dasar. Dasarnya burung juga makhluk hidup, pasti juga punya kepentingan … heuheuheu. Aauumm …


Kepakan sayap elang – elang berbunyi menyambut senja. Menyapa sarang yang telah lama ditinggalkan seharian. Induk Elang itu berkata pada anak – anaknya yang belum bisa terbang, “Nak, berubahlah, berevolusilah, jangan kalah sama burung galapagos yang kecil itu. Karena kalau mental memang ngga ada, lantas apa yang mau dirubah ?. Jangan takut tuk terbang dan berkelahi sendiri. Biarkan ini menjadi ceritamu sendiri – sendiri. Bukan cerita hewan lain, dan kau cuman menuh-menuhin … heuheuheu.”

Kepakan sayap – sayap Elang kembali berbunyi malam itu, semakin banyak dan memenuhi langit. Semakin ramai diikuti makhluk bersayap lainnya. Ini pertanda pergantian musim entah peradaban, karena kumbang – kumbang pun ikut terbang. Kepakan sayap mereka pertanda penting, mereka terbang tanpa peduli penghuni hutan tak bersayap lainnya. Ga pake buat kelompok – kelompok dulu, ga pake pengumuman ini itu dulu. Ga pake siasat ini itu, dan ngga pake manifesto – manifesto-an dulu. Mereka sudah menunggu waktu ini, hijrah yang sebenarnya, kesadaran, bhakti dan “perpindahan” yang sesungguhnya, selalu dalam senyap tanpa kata – kata kebenaran yang diombang – ambing.


 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s