Kemampuan Melepas Sebenarnya

Kemampuan yang dimiliki didapat atau sebut saja dianugrahi (bahasa religi) untuk mencari, berjalan hingga memiliki segalanya. Berjumpa akan banyak hal sehingga membuat kaya akan kesadaran atau sebut saja (lagi) wawasan. Itu merupakan sebuah kemampuan yang berujung ada pilihan akan terus tergantung akan hal yang didapat itu atau justru melepasnya secara seluruh.

Seseorang memiliki kekuasaan, harta atau sangat bagus akan keterikatan hubungan tertentu, justru mereka yang akan secara nyata menjalani, tidak hanya mengerti atau pasrah akan pelepasan. Kau bisa saja melepas ini itu, kata – katamu bijak bagai sudah menjalankan semua perjalanan ilahi. Namun, berkacalah, melepas keterikatan itu justru harus dikumandangkan oleh semua yang telah berjuang secara lika – liku untuk mewujudkan sesuatu, dimana setelahnya dia benar – benar melepasnya.

Kau memang tidak dianugrahi apapun, lantas buat apa menerawang mendalami sebuah lepas keterikatan ? Kesadaran pelepasan seperti itu hanya berputar dalam benakmu saja. Kau hanya berputar di kaki gunung, kau tidak berputar mengelilingi gunung itu, seperti mereka yang telah naik turun gunung secara lika – liku.

Namun, siapakah yang benar – benar mengalami, menjalani, mengarungi sesuatu hal yang semestinya dia pegang terus, lantas dia melepaskan itu. Seperti kisah para misionaris nasrani yang sampai ke Jepang. Jepang yang sudah menikmati kenikmatan samudra, kau tawarkan kenikmatan danau … heuheuheu. Justru para spiritualis Jepanglah yang akan mengajarimu bagaimana danau itu menuju samudra … heuheuheu.

Hingga para misionaris itu melepas apa yang sebelumnya membuat mereka terhanyut. Merekalah yang mengalami pelepasan yang sebenarnya. Lepas dari danau menuju samudra. Bukan para spiritualis Jepang. Lepas seperti itu akan dialami oleh seseorang yang telah berjuang mendapatkan sesuatu, menikmatinya, melepasnya tanpa menengok ke belakang, dalam waktu yang cepat. Waktu adalah pertanda kita. Waktu adalah nama kita. Waktu pula adalah kematian kita. Sebelum waktu telah berhenti, lepaslah sebanyak – banyaknya dan yang terpenting jangan teringinkan oleh apapun lagi.

Maka dari itu, gapai apapun dengan tawa karena pasti kita tidak memiliki segalanya. Dan lucunya segalanya itu justru dibuat seolah – olah kita butuhkan secara religi, membabi buta. Manusia pada dasarnya jujur, namun persepsi akan bahasa – bahasa religi dia sendiri inilah yang membuatkan berbohong … heuheuheu.

153713_cara-black-hole-melahap-bintang_663_382

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s